Efek Rumah Kaca adalah band asal Jakarta yang beranggotakan Cholil Mahmud (vokal,gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass), dan Akbar Bagus Sudibyo (drum,vokal latar). Khalayak juga mengenalnya dengan nama ERK. Band ini pertama kali terbentuk pada tahun 2001. Saat itu beranggotakan lima personel, dengan pemain piano dan gitaris, sedangkan Cholil saat itu hanya menjadi vokalis. Namun pada 2003, pemain piano dan gitaris memutuskan untuk keluar. Sebelum menjadi Efek Rumah Kaca, kami beberapa kali menggunakan nama band, yaitu Hush, Superego, Rivermaya, tetapi dua nama terakhir sudah dimiliki band lain.
Semenjak 2003 hingga 2005, mereka tidak menggunakan nama (no name). Baru pada 2005, tempat latihan mereka berulang tahun dan mengajak manggung. Tentu untuk manggung perlu nama. Harlan Boer, saat itu sebagai Personal Manager Efek Rumah Kaca, mengusulkan nama Efek Rumah Kaca yang diambil dari judul lagu yang dibuat pada 2004. Seperti diungkapkan Harlan Boer, bahwa :
“Awalnya ragu juga karena namanya terlalu panjang dan sama sekali tidak ada unsur filosofi di dalamnya. Namun, akhirnya kami putuskan menggunakan nama tersebut karena itu ternyata catchy juga”.
Sejak awal kemunculan mereka, banyak pihak yang menyebutkan bahwa warna musik Efek Rumah Kaca tergolong dalam post-rock, bahkan ada yang menyebutkan shoegaze sebagai warna musik mereka. Tetapi ERK dengan mantap menyebutkan bahwa warna musik mereka adalah pop, karena mereka merasa tidak menggunakan banyak distorsi dan efek dalam lagu mereka seperti layaknya musik rock.
Visi dan Misi
Komposisi dari lagu yang diciptakan oleh Efek Rumah Kaca sebangun dengan tema, agar musik yang dihasilkanpun tidak hanya menjadi hiburan. Namun harus ada juga unsur refleksi dan pesan dari realitas yang ingin disampaikan. Mereka melihat satu realitas dari berbagai sudut pandang. Memotret zaman, lirik ditata, terkadang puitis, ada juga kalimat yang bersuarakan apa adanya. Semua dikemas dengan baik melalui kekayaan pilihan kata dalam bahasa Indonesia.
Selain itu Efek Rumah Kaca juga ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk bisa lebih memperluas pengetahuan akan makna sebuah lagu, bukan malah mempersempit dan terkungkung pada simbol-simbol cinta yang selalu laris manis di pasaran. Pembelajaran yang perlu digarisbawahi untuk membuka cakrawala lebih meluas.
Karya
Tahun 2006 lagu "Melankolia" dan "Di Udara" mereka jadikan sebagai “jagoan” menjadi pembuka pada kompilasi Paviliun Do Re Mi (Paviliun Record) dan Todays of yesterday (Bad sector records). Efek Rumah Kaca mulai keluar untuk berkenalan pada bulan Agustus 2007 dengan menggelar tour ke beberapa kota besar di Jawa. Momentum ini menjadi sebuah pengantar menuju album debut mereka.
Pada bulan September 2007, album selftitled Efek Rumah Kaca dilepas melalui Paviliun Record. Album ini direspon baik oleh publik, diawali dengan review-review positif dari para penulis di Internet. Single pertama ”Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” mulai membuat kalangan media dan pendengar musik Indonesia menaruh pehatian. Tapi yang paling berpengaruh mengenalkan nama Efek Rumah Kaca kepada publik nasional adalah single kedua mereka yang berjudul “Cinta Melulu”. Sebuah satir ceria akan industri musik Indonesia yang didominasi oleh lagu-lagu bertema cinta yang penyajian komposisi musik dan liriknya begitu- begitu saja.
Kurang dari setahun berselang, 19 Desember 2008 Efek Rumah Kaca merilis album kedua yang mereka beri judul “Kamar Gelap” oleh Aksara Record. Ada 12 lagu yang mereka bawakan di album ini, setiap komposisi musiknya dirancang untuk mendukung tema dan lirik lagunya, begitupun sebaliknya. Musik mereka masih bermain di area pop, namun ditambah sedikit arsiran indie rock, punk, progressive rock, dan jazz. Tittle album “kamar gelap” diambil dari lagu berjudul di album kedua ini. “Kamar Gelap” adalah representasi konsep bermusik ERK, yaitu memotret realitas. Untuk menyempurnakan album kedua ERK berkarya bersama Angki Purbandono. Beliau adalah seorang seniman berbasis fotografi dari ruang MES 56 Yogyakarta yang manangani arahan seni kemasan album ini.
Pada September 2011 album ketiga ERK akan meluncur ke pasaran. Menurut Akbar, perencanaan album tersebut sudah ada sejak tahun 2010 bersama Cholil dan Adrian. Prosesnya yaitu penemuan dan fiksasi nada drum, kemudian untuk gitar dan bass, terakhir penemuan lirik lagu. Mereka mengaku proses pengerjaan album ini agak tersendat karena Adrian masih belum cukup pulih dari penyakit yang dideritanya. Sudah dicheck di Singapura, sepertinya ada permasalahan virus dengan penglihatannya. Akbar sang penabuh drum menjelaskan, bahwa :
Album itu akan berisi enam lagu. “Belum terpikirkan mengenai lagu apa yang mungkin menjadi lagu cover album. Belum juga terpikirkan mengenai judul album”,
Prestasi
Kegigihan kami dalam menyampaikan pesan sosial dalam album ini mengantarkan mereka manggung di berbagai kota besar di Indonesia, selain itu juga mengantarkan ERK meraih antara lain “The Best Cutting Edge” - MTV Indonesia Music Award 2008, “Editor’s Choice 2008” versi Rolling Stone Indonesia, “Class Music Heroes 2008” dan Nominator Anugrah Musik Indonesia Award 2008. Di awal bulan Maret 2009 ERK masuk dalam jajaran musisi ClassMusic Heroes oleh salah satu produk rokok. Nama ERK disejajarkan dengan nama-nama besar lainnya, seperti Iwan Fals, Slank, Peterpan dan nama-nama besar lainnya.
Pada 23 Januari 2013 Efek Rumah Kaca baru saja melaksakan penampilan di Rolling Stone Cafe, Jakarta. Disana mereka sangat mendapat antusias terilihat dari penjualan tiket sebanyak 200 habis terjual, belum lagi tamu undangan yang tak terhitung. ERK main hampir dua jam tanpa henti melaksanakan tugas mereka seakan tak kenal letih. Padahal ini adalah konser panjang perdana mereka yang sekaligus memecahkan rekor sebagai konser dengan durasi terlama dalam sejarah karier band.
2008 Anugerah Musik Indonesia - Karya Produksi Alternatif Terbaik "Cinta Melulu" - Nominasi
2008 MTV Indonesia Award - The Best Cutting Edge Efek Rumah Kaca - Menang
2008 Rolling Stone Indonesia - Efek Rumah Kaca Rookie of the Year - Menang
2009 Class Music Heroes 2009 - Efek Rumah Kaca Class Music Heroes - Menang
2009 Rolling Stone Indonesia1- 50 Lagu Indonesia Terbaik "Di Udara" - ke-131
2009 Rolling Stone Indonesia - 150 Lagu Indonesia Terbaik "Cinta Melulu" - ke-143
2010 Indonesia Cutting Edge Music Awards - The Best Album Kamar Gelap - Menang
2010 Indonesia Cutting Edge Music Awards - Favorite Alternative Song "Kenakalan Remaja di Era Informatika" - Menang
2016 Indonesian Choice Awards - Album of The Year Sinestesia - Nominasi
2016 Anugerah Musik Indonesia - Karya Produksi Alternatif Terbaik "Merah" - Nominasi
2017 Karya Produksi Alternatif Terbaik - Anugerah Musik Indonesia "Merdeka " - Nominasi
2018 Karya Produksi Alternatif Terbaik - Anugerah Musik Indonesia "Seperti Rahim Ibu" - Nominasi
Kumpulan Lagu
Sebelah Mata - 2007
Cinta Melulu - 2007
Di Udara - 2007
Tiba-Tiba Batu - 2020
Putih - 2015
Pasar Bisa Diciptakan
Seperti Rahim Ibu
Melankolia - 2007
Debu-Debu Berterbangan - 2007
Desember - 2007
Mosi Tidak Percaya - 2008
Merah - 2015
Normal yang Baru - 2020
Biru - 2015
Jalang - 2007
Balerina - 2008
Jatuh Cinta itu Biasa Saja - 2007
Palung Mariana - 2020
Kuning - 2015
Menjadi Indonesia - 2008
Hujan Jangan Marah - 2008
Lagu Kesepian - 2008
Hijau - 2015
Belanja Terus Sampai Mati - 2007
Jingga - 2015
Hilang
Bukan Lawan Jenis - 2007
Laki-Laki Pemalu - 2008
Insomnia - 2007
Tubuhmu Membiru.... Tragis - 2008
Jangan Bakar Buku - 2008
Nyala Tak Terperi
Merdeka - 2016
Banyak Asap Di Sana - 2008
Kamar Gelap - 2008
Gelembung Kaca

No comments:
Post a Comment